<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Eddy Setiawan</title>
	<atom:link href="http://eddysetia.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://eddysetia.wordpress.com</link>
	<description>Belajar Islam</description>
	<lastBuildDate>Wed, 21 Dec 2011 09:35:18 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='eddysetia.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/b1f429ea22af6de26f0162b79254836e?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Eddy Setiawan</title>
		<link>http://eddysetia.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://eddysetia.wordpress.com/osd.xml" title="Eddy Setiawan" />
	<atom:link rel='hub' href='http://eddysetia.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Ibrahim ibn Adham</title>
		<link>http://eddysetia.wordpress.com/2010/11/07/ibrahim-ibn-adham/</link>
		<comments>http://eddysetia.wordpress.com/2010/11/07/ibrahim-ibn-adham/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Nov 2010 12:38:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eddy setiawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eddysetia.wordpress.com/?p=127</guid>
		<description><![CDATA[Ibrahim ibn Adham, yang meninggal pada 161 Hijriyyah. Adalah Asketis angkatan awal. Beliau putra raja dari kerajaan Balkh, Dia lebih suka menjadi Sufi. Suatu ketika Ibrahim ibn Adham, diberitahu tentang harga daging yang melonjak naik. Ibrahim ibn Adham ber kata, ” Apakah ada orang-orang meminta harganya diturunkan?” atau lebih baik orang-orang tidak usah membelinya. Ibrahim [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eddysetia.wordpress.com&amp;blog=9150382&amp;post=127&amp;subd=eddysetia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ibrahim ibn Adham</strong>,  yang meninggal pada 161 Hijriyyah. Adalah <strong>Asketis</strong> angkatan awal. Beliau putra raja dari kerajaan Balkh, Dia lebih suka menjadi Sufi.  Suatu ketika Ibrahim ibn Adham, diberitahu tentang harga daging yang melonjak naik. Ibrahim ibn Adham ber kata, ” Apakah ada orang-orang meminta harganya diturunkan?” atau lebih baik orang-orang tidak usah membelinya. Ibrahim ibn Adham pula membacakan lirik : ” <em>Di kala sesuatu menjadi mahal, niscaya aku kan meninggalkannya sehingga ia lebih murah dariharganya.”</em>  Riwayat tadi mengisyaratkan bahwa Ibrahim ibn Adham, adalah seorang asketis, dia menjauhkan diri dari hawa nafsu (makan daging)  yang menghalangi kebebasannya untuk tidak memakan daging, tetapi Ibrahim ibn Adham tidak berpaling secara penuh dari hal-hal duniawi. Ibrahim ibn Adham hanya   mengendalikan dirinya dari keinginan hawa nafsunya. Seperti Firman Allah, <em>“Dan begitu pula Kami menjadikan kamu ( ummat Islam) ummat yang adil serta pilihan.” “Dan carilah apa yang dianugerahkan Allah kepadamu dari (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu  dari (kenikmatan) duniawi.”</em> Sementara dalam hadist Nabi Muhammad: <em>“Bekerjalah untuk duniamu seakan kamu akan hidup selamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan kamu akan mati esok hari.” </em><br />
<span id="more-127"></span><br />
Al-Sulami  meriwayatkan, beliau berkata, : <em>“Barang siapa mengetahui yang dituntutnya, dia akan meremehkan yang dicurahkannya. Barang siapa membiarkan lepas cita-citanya, tindakannya akan menjadi buruk. Dan barang siapa tidak mengendalikan lidahnya, dia akan membunuh dirinya sendiri.”</em> Dan kata nya pula, : <em>“Ketahuilah, kamu tidak akan bisa mencapai peringkat orang-orang sholeh kecuali setelah kamu melewati enam pengujian: </em></p>
<li>1.  Hendaklah kamu menutup pintu gerbang kenikmatan dan membuka pintu gerbang kesulitan. </li>
<li>2.  Hendaklah kamu menutup pintu gerbang kemasyhuran dan membuka pintu gerbang kehinaan </li>
<li>3.  Hendaklah kamu menutup pintu gerbang hidup santai dan membuka pintu gerbang kerja keras </li>
<li>4.  Hendaklah kamu menutup pintu gerbang tidur dan membuka pintu gerbang jaga tengah malam </li>
<li>5.  Hendaklah kamu menutup pintu gerbang kekayaan dan membuka pintu gerbang kemiskinan </li>
<li>6.  Hendaklah kamu menutup pintu gerbang cita-cita dan membuka pintu gerbang kesiapan menghadapi mati</li>
<p>Sumber : WALIJOdotCom</p>
<p>Artikel Terkait :</p>
<li><a href="http://eddysetia.wordpress.com/2009/11/15/syekh-abdul-qodir-jailani/">Syekh Abdul Qadir Jailani</a></li>
<li><a href="http://eddysetia.wordpress.com/2009/11/21/biografi-ibnu-araby/">Ibnu Araby</a></li>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eddysetia.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eddysetia.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eddysetia.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eddysetia.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/eddysetia.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/eddysetia.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/eddysetia.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/eddysetia.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eddysetia.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eddysetia.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eddysetia.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eddysetia.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eddysetia.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eddysetia.wordpress.com/127/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eddysetia.wordpress.com&amp;blog=9150382&amp;post=127&amp;subd=eddysetia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eddysetia.wordpress.com/2010/11/07/ibrahim-ibn-adham/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c6c277c33ea83c9b85512b4bfd1116b2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">eddysetia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sang Sufi</title>
		<link>http://eddysetia.wordpress.com/2010/08/31/sang-sufi/</link>
		<comments>http://eddysetia.wordpress.com/2010/08/31/sang-sufi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Aug 2010 21:29:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eddy setiawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anekdot]]></category>
		<category><![CDATA[Tasawuf]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Sufi]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eddysetia.wordpress.com/?p=119</guid>
		<description><![CDATA[Tersebutlah seorang penganut tasawuf bernama Nidzam al-Mahmudi. Ia tinggal di sebuah kampung terpencil, dalam sebuah gubuk kecil. Istri dan anak-anaknya hidup sangat sederhana. Akan tetapi, semua anaknya berpikiran cerdas dan berpendidikan. Selain penduduk kampung itu, tidak ada yang tahu bahwa ia mempunyai kebun subur berhektar-hektar dan perniagaan yang kian berkembang di beberapa kota besar. Dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eddysetia.wordpress.com&amp;blog=9150382&amp;post=119&amp;subd=eddysetia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tersebutlah seorang penganut tasawuf bernama <strong>Nidzam al-Mahmudi.</strong> Ia tinggal di sebuah kampung terpencil, dalam sebuah gubuk kecil. Istri dan anak-anaknya hidup sangat sederhana. Akan tetapi, semua anaknya berpikiran cerdas dan berpendidikan. Selain penduduk kampung itu, tidak ada yang tahu bahwa ia mempunyai kebun subur berhektar-hektar dan perniagaan yang kian berkembang di beberapa kota besar. Dengan kekayaan yang diputar secara mahir itu ia dapat menghidupi ratusan keluarga yg bergantung padanya. Tingkat kemakmuran para kuli dan pegawainya bahkan jauh lebih tinggi ketimbang sang majikan. Namun, Nidzam al-Mahmudi merasa amat bahagia dan damai menikmati perjalanan usianya.</p>
<p>Salah seorang anaknya pernah bertanya, `Mengapa Ayah tidak membangun rumah yang besar dan indah? Bukankah Ayah mampu?&#8221;"Ada beberapa sebab mengapa Ayah lebih suka menempati sebuah gubuk kecil,&#8221; jawab sang sufi yang tidak terkenal itu. &#8220;Pertama, karena betapa pun besarnya rumah kita, yang kita butuhkan ternyata hanya tempat untuk duduk dan berbaring. Rumah besar sering menjadi penjara bagi penghuninya. Sehari-harian ia Cuma mengurung diri sambil menikmati keindahan istananya. Ia terlepas dari masyarakatnya. Dan ia terlepas dari alam bebas yang indah ini. Akibatnya ia akan kurang bersyukur kepada Allah.&#8221;<br />
<span id="more-119"></span><br />
Anaknya yang sudah cukup dewasa itu membenarkan ucapan ayahnya dalam hati. Apalagi ketika sang Ayah melanjutkan argumentasinya, &#8220;Kedua, dengan menempati sebuah gubuk kecil, kalian akan menjadi cepat dewasa. Kalian ingin segera memisahkan diri dari orang tua supaya dapat menghuni rumah yang lebih nyaman. Ketiga, kami dulu cuma berdua, Ayah dan Ibu. Kelak akan menjadi berdua lagi setelah anak-anak semuanya berumah tangga. Apalagi Ayah dan Ibu menempati rumah yang besar, bukankah kelengangan suasana akan lebih terasa dan menyiksa?&#8221;</p>
<p>Si anak tercenung. Alangkah bijaknya sikap sang ayah yang tampak lugu dan polos itu. Ia seorang hartawan yang kekayaannya melimpah. Akan tetapi, keringatnya setiap hari selalu bercucuran. Ia ikut mencangkul dan menuai hasil tanaman. Ia betul-betul menikmati kekayaannya dengan cara yang paling mendasar. Ia tidak melayang-layang dalam buaian harta benda sehingga sebenarnya bukan merasakan kekayaan, melainkan kepayahan semata-mata. Sebab banyak hartawan lain yang hanya bisa menghitung-hitung kekayaannya dalam bentuk angka-angka. Mereka hanya menikmati lembaran-lembaran kertas yang disangkanya kekayaan yang tiada tara. Padahal hakikatnya ia tidak menikmati apa-apa kecuali angan-angan kosongnya sendiri.</p>
<p>Kemudian anak itu lebih terkesima tatkala ayahnya meneruskan, &#8220;Anakku, jika aku membangun sebuah istana anggun, biayanya terlalu besar. Dan biaya sebesar itu kalau kubangunkan gubuk-gubuk kecil yang memadai untuk tempat tinggal, berapa banyak tunawisma/gelandangan bisa terangkat martabatnya menjadi warga terhormat? Ingatlah anakku, dunia ini disediakan Tuhan untuk segenap mahkluknya. Dan dunia ini cukup untuk memenuhi kebutuhan semua penghuninya. Akan tetapi, dunia ini akan menjadi sempit dan terlalu sedikit, bahkan tidak cukup, untuk memuaskan hanya keserakahan seorang manusia saja.&#8221; </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eddysetia.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eddysetia.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eddysetia.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eddysetia.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/eddysetia.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/eddysetia.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/eddysetia.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/eddysetia.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eddysetia.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eddysetia.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eddysetia.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eddysetia.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eddysetia.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eddysetia.wordpress.com/119/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eddysetia.wordpress.com&amp;blog=9150382&amp;post=119&amp;subd=eddysetia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eddysetia.wordpress.com/2010/08/31/sang-sufi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c6c277c33ea83c9b85512b4bfd1116b2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">eddysetia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Al-Qur&#8217;an Sebagai Petunjuk dan Pedoman Bagi Manusia</title>
		<link>http://eddysetia.wordpress.com/2010/08/28/al-quran-sebagai-petunjuk-dan-pedoman-bagi-manusia/</link>
		<comments>http://eddysetia.wordpress.com/2010/08/28/al-quran-sebagai-petunjuk-dan-pedoman-bagi-manusia/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Aug 2010 16:37:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eddy setiawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Al Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eddysetia.wordpress.com/?p=113</guid>
		<description><![CDATA[Allah SWT menurunkan pesan-pesan-Nya melalui al-qur’an kepada manusia, untuk dijadikan pegangan dan pedoman, WAY OF LIFE, agar manusia sukses dalam menjalani kehidupan di dunia dan bahagia di akhirat. Allah menurunkan al-qur’an melalui Rasul-Nya, menggunakan bahasanya, al-qur’an diturunkan dibelahan bumi pilihan Allah, yakni Mekkah Al Muqarramah dan sebagai umat islam yang juga terpanggil untuk menjalankan pesan-pesan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eddysetia.wordpress.com&amp;blog=9150382&amp;post=113&amp;subd=eddysetia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Allah SWT menurunkan pesan-pesan-Nya melalui <strong>al-qur’an</strong> kepada manusia, untuk dijadikan pegangan dan pedoman, WAY OF LIFE, agar manusia sukses dalam menjalani kehidupan di dunia dan bahagia di akhirat. Allah menurunkan al-qur’an melalui Rasul-Nya, menggunakan bahasanya, al-qur’an diturunkan dibelahan bumi pilihan Allah, yakni Mekkah Al Muqarramah dan sebagai umat islam yang juga terpanggil untuk menjalankan pesan-pesan Allah, maka sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk menjadikan al-qur’an sebagai petunjuk dan pedoman dalam hidup dan kehidupan, yakni memasyarakatkan isi, bacaan dan mengamalkan al-qur’an dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p><em>“ Alif Laam Raa &#8230;.. ( ini adalah ) Kitab yang kami turunkan kepadamu (Muhammad) supaya kamu mengeluarkan manusia dari kegerlapan kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan, (Yaitu) menuju jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha terpuji ”</em>. (QS;Ibrahim ayat; 1)</p>
<p>Dari ayat yang di atas, jelaslah bahwa fungsi al-qur’an adalah untuk membebaskan manusia    pada ayat ini Allah menyebutkan kegelapan dengan  menggunakan jamak Mu’annas salim dari isim mufrad  artinya kegelapan-kegelapan. Mengandung bahwa kegelapan di dunia ini banyak macam raga dan bentuk. Hal ini juga ditegaskan dalam beberapa tafsir, baik itu ( At-Tabari ), (Jalalain), ( Ibnu Katsir ), maupun (Al-Kurtubi ) disebutkan bahwa   itu tafsirnya , kekafiran, kesesatan dan kebodohan. Sementara      dalam ayat ini menggunakan isim mufrad, tidak menggunakan bentuk jamak. itu menunjukkan bahwa cahaya itu satu, yakni cahaya iman, petunjuk dan hidayah Allah SWT.<br />
<span id="more-113"></span><br />
Pada saat Nabi Muhammad yang begitu semangatnya mempelajari al-qur’an hingga ketika Jibril belum selesai menuntun, beliau sudah menirukannya. Allah melarang Nabi Muhammad, menirukan bacaan Jibril kalimat demi kalimat, sebelum Jibril membacakannya sampai selesai. Hal ini dilakukan agar Nabi Muhammad benar-benar paham dan hafal terhadap ayat yang diturunkan. Artinya tanamkanlah kegemaran membaca al-qur’an, pelajarilah secara bertahap dan siapapun yang ingin belajar al-qur’an haruslah ada pembimbingnya, agar ketika salah membacanya ada yang mengoreksinya.</p>
<p><em>16. janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) <strong>Al Quran</strong> karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya.<br />
17. Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.<br />
18. apabila Kami telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu.<br />
19. Kemudian, Sesungguhnya atas tanggungan kamilah penjelasannya.<br />
20. sekali-kali janganlah demikian. sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia,<br />
21. dan meninggalkan (kehidupan) akhirat</em>.(QS;Al-Qiyamah : 16-21)</p>
<p>Pada ayat ini juga Allah memerintahkan dengan Fi’il Amar  maka iktuilah bacaan itu artinya, setelah gemar membaca dan mengamalkannya al-qur’an kita tidak hanya tinggal diam. Kita disuruh mengikuti al-qur’an, mengikuti amalan syariat dan hokum-hukumnya, sesuai dengan kapasitas diri masing-masing. Pelestarian dan pengaktualisasian nilai-nilai al-qur’an dalam kehidupan sehari-hari sangatlah penting. Dengan kecintaan membaca ayat-ayat al-qur’an , merupakan tanda akan lahir suatu motivasi untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kecintaan terhadap al-qur’an tidak lahir dengan spontanitas, disamping upaya yang sungguh-sungguh dari diri sendiri, keluarga dan para ulama dalam meningkatkan tulis baca al-qur’an, namun yang  tidak kala pentingnya adalah faktor apresiasi pemerintah. Jikalau kita seorang pejabat, tiada salahnya membuat peraturan daerah yang berhubungan dengan al-qur’an, misalnya setiap anak yang melanjutkan ke tingkat SLTP dan SLTA hendaknya memiliki sertifikat tulis baca al-qur’an. Dengan demikian, TPA-TPA yang ada disekitar kita tidak akan sepi seperti sekarang ini. Kita bangga karena didaerah kita telah banyak berdiri mensjid-mesjid, telah banyak berdiri surau-surau, TPA-TPA yang telah banyak dicetak qari dan qari’ah,</p>
<p>Oleh karena itu, marilah kita galakkan membaca Al-Qur’an.  Marilah, bersama-sama kita pelajari dan mengamalkan isi Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari, sebagaimana layaknya Rasul diberi gelar Al-Qur’an yang berjalan. Dengan demikian akan tercapailah masyarakat yang dicita-citakan yaitu BALDHATUN TAYYIBATUN WARABBUN GHAFUR.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eddysetia.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eddysetia.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eddysetia.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eddysetia.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/eddysetia.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/eddysetia.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/eddysetia.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/eddysetia.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eddysetia.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eddysetia.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eddysetia.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eddysetia.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eddysetia.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eddysetia.wordpress.com/113/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eddysetia.wordpress.com&amp;blog=9150382&amp;post=113&amp;subd=eddysetia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eddysetia.wordpress.com/2010/08/28/al-quran-sebagai-petunjuk-dan-pedoman-bagi-manusia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c6c277c33ea83c9b85512b4bfd1116b2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">eddysetia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pencuri dan Ahli Ibadah (Abid)</title>
		<link>http://eddysetia.wordpress.com/2010/04/04/pencuri-dan-ahli-ibadah-abid/</link>
		<comments>http://eddysetia.wordpress.com/2010/04/04/pencuri-dan-ahli-ibadah-abid/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Apr 2010 15:53:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eddy setiawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anekdot]]></category>
		<category><![CDATA[Tasawuf]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Sufi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eddysetia.wordpress.com/2010/04/04/pencuri-dan-ahli-ibadah-abid/</guid>
		<description><![CDATA[Di zaman Nabi Musa a.s. ada seorang hamba Allah yang kerjanya mencuri. Sudah 40 tahun dia mencuri. Suatu hari, dia terlihat Nabi Musa a.s. sedang berjalan. Terlintas di hatinya untuk berjalan bersama Nabi Musa a.s. Katanya; “ Kalau aku dapat berjalan bersama Nabi Musa, mudah-mudahan ada juga berkatnya untuk aku.” Tetapi setelah dipikirkannya semula, dia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eddysetia.wordpress.com&amp;blog=9150382&amp;post=110&amp;subd=eddysetia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di zaman Nabi Musa a.s. ada seorang hamba Allah yang kerjanya mencuri. Sudah 40 tahun dia mencuri. Suatu hari, dia terlihat Nabi Musa a.s. sedang berjalan. Terlintas di hatinya untuk berjalan bersama Nabi Musa a.s. Katanya; “ Kalau aku dapat berjalan bersama Nabi Musa, mudah-mudahan ada juga berkatnya untuk aku.”  	</p>
<p>Tetapi setelah dipikirkannya semula, dia tidak jadi melangsungkan niatnya itu. Dia berkata, “Aku ini pencuri. Manalah layak pencuri macam aku ini berjalan bersama seorang nabi.” Sejurus kemudian, dia terlihat pula seorang abid berlari-lari anak mengejar Nabi Musa a.s. dari belakang. Si abid ini telah beribadah secara istiqamah selama 40 tahun dan dikenali orang. Si pencuri itu berkata di dalam hatinya, “Baik aku berjalan bersama si abid ini. Moga-moga ada juga baiknya untuk aku.”<br />
<span id="more-110"></span><br />
Lantas si pencuri menghampiri si abid dan meminta kebenaran untuk berjalan bersamanya. Apabila ternampak sahaja si pencuri, si abid terkejut dan terus merasa takut. Dia berkata di dalam hatinya, “Celaka aku! Kalau si pencuri ini berjalan bersama aku, takut-takut nanti rosak segala kebaikan dan amalanku.”  	</p>
<p>Si abid terus berlari laju supaya si pencuri tidak dapat ikut. Si pencuri tadi terus mengikut si abid kerana hendak berjalan bersamanya. Akhirnya kedua-dua mereka sampai serentak kepada Nabi Musa a.s.  	</p>
<p>Nabi Musa a.s. terus berpaling dan bersabda kepada mereka berdua, “ Aku baru sahaja mendapat wahyu dari Allah Taala supaya memberitahu kamu berdua bahawa segala amalan baik dan buruk kamu telah dimansuhkan oleh Allah.” Maka terkejutlah si abid dan si pencuri tadi. Berbahagialah si pencuri kerana segala dosanya mencuri selama 40 tahun telah diampunkan oleh Allah. Celaka dan dukacitalah si abid kerana segala amalan dan ibadahnya selama 40 tahun telah ditolak dan tidak diterima oleh Allah.  	</p>
<p>Rupa-rupanya si pencuri itu, walaupun kerjanya mencuri, dia tidak suka akan perbuatannya itu. Dia miskin dan tanggungannya banyak. Masyarakat ketika itu sudah rosak dan orang kaya enggan membantu fakir miskin. Dia mencuri kerana terpaksa. Oleh itu, setiap kali dia mencuri, dia amat merasa bersalah dan berdosa. Jiwanya terseksa dan menderita. Selama 40 tahun dia menanggung rasa berdosa itu dan selama itu juga jiwanya parah menanggung derita. Selama 40 tahun hatinya merintih meminta belas kasihan, keampunan dan mengharapkan kasih sayang Tuhan.  	</p>
<p>Si abid pula, amat yakin ibadahnya mampu menyelamatkannya. Dia yakin ibadahnya akan dapat membeli Syurga. Setiap kali dia beribadah, dia rasa dirinya bertambah baik. Setiap kali dia beribadah, dia rasa dirinya bertambah mulia. Selama 40 tahun si abid ini mendidik hatinya supaya merasa lebih baik dan lebih mulia setiap kali dia membuat ibadah. Hingga dia rasa tidak layak bergaul, inikan pula berjalan bersama orang yang hina dan berdosa. Dia rasa dia hanya layak berjalan bersama para Nabi.  </p>
<p>Maha Suci Allah yang mengetahui segala isi hati manusia. Yang tidak melihat akan amalan-amalan lahir tetapi apa yang ada di dalam hati. Yang menilai hamba-Nya mengikut apa yang termampu oleh hamba-Nya dan tidak lebih dari itu. Yang menguji manusia dengan kesusahan dan nikmat untuk mengetahui siapa di kalangan hamba-hamba-Nya yang benar-benar berjiwa hamba dan merasa bahawa Allah itu Tuhannya</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eddysetia.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eddysetia.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eddysetia.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eddysetia.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/eddysetia.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/eddysetia.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/eddysetia.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/eddysetia.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eddysetia.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eddysetia.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eddysetia.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eddysetia.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eddysetia.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eddysetia.wordpress.com/110/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eddysetia.wordpress.com&amp;blog=9150382&amp;post=110&amp;subd=eddysetia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eddysetia.wordpress.com/2010/04/04/pencuri-dan-ahli-ibadah-abid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c6c277c33ea83c9b85512b4bfd1116b2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">eddysetia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Shalat dan Pembinaan Akhlak</title>
		<link>http://eddysetia.wordpress.com/2010/01/14/shalat-dan-pembinaan-akhlak/</link>
		<comments>http://eddysetia.wordpress.com/2010/01/14/shalat-dan-pembinaan-akhlak/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Jan 2010 14:41:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eddy setiawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eddysetia.wordpress.com/2010/01/14/shalat-dan-pembinaan-akhlak/</guid>
		<description><![CDATA[Shalat merupakan ibadah yang terdiri dari perkataan dan perbuatan tertentu sesuai syarat dan rukunnya yang dimulai dengan Takbiratul Ihram dan disudahi dengan Salam. Tata caranya adalah sesuai yang disampaikankan oleh para Sahabat yang melihat Rasulullah sedang melaksanakan shalat. Sudah turun-temurun hingga kini, begitulah kita melihat orang-orang mendirikan shalat. Demikian pula kita mendirikan shalat sesuai ajaran [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eddysetia.wordpress.com&amp;blog=9150382&amp;post=109&amp;subd=eddysetia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Shalat </strong>merupakan ibadah yang terdiri dari perkataan dan perbuatan tertentu sesuai syarat dan rukunnya yang dimulai dengan Takbiratul Ihram dan disudahi dengan Salam. Tata caranya adalah sesuai yang disampaikankan oleh para Sahabat yang melihat Rasulullah sedang melaksanakan shalat. </p>
<p>Sudah turun-temurun hingga kini, begitulah kita melihat orang-orang mendirikan shalat. Demikian pula kita mendirikan shalat sesuai ajaran yang kita yakini kesahihannya hingga saat ini. Hal ini telah sesuai dengan sabda Rasulullah SAW yang kami bacakan di awal tadi, yang artinya adalah ”Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku melaksanakan/mempraktikkannya.” (HR Bukhari-Muslim) </p>
<p>Menurut sejarahnya, perintah shalat diterima oleh Rasululah SAW ketika menunaikan Isra’ mi’raj. Bahwa Nabi Muhammad naik menuju Sidratul Muntaha dan bertemu secara langsung (yaqodhoh) dengan Allah SWT. Pada saat inilah Rasulullah mendapat perintah baginya beserta seluruh ummat yang mempercayai keterutusannya, berupa shalat 50 kali sehari yang kemudian dikurangkan hingga lima kali. </p>
<p><span id="more-109"></span></p>
<p>Pewahyuannya yang secara langsung ini menjadikan shalat diyakini oleh para ulama sebagai sebuah ibadah yang memiliki keistimewaan-keistimewaan tertentu. Shalat adalah ibadah yang pertama kali akan ditimbang kelak dihari pembalasan. Jika seorang hamba baik shalatnya maka tentu menjadi baik pulalah seluruh amal perbuatannya. Sebaliknya, jika seorang hamba jelek shalatnya, maka berarti buruk pulalah seluruh hidupnya. </p>
<p>Tentu urusan baik dan buruk ibadah shalat seseorang kemudian bukan hanya ditentukan oleh rajin dan tidaknya ia pergi ke Masjid. Melainkan juga menghitung khusyuk ataukah tidaknya, ikhlas atau pamernya seorang hamba ketika sedang menghadap Sang Pencipta alam semesta ini setiap waktunya. Sebagaimana firman Allah, </p>
<p>&#8220;Telah beruntunglah orang-orang mukmin, yaitu mereka yang khusyu&#8217; dalam shalatnya.&#8221; (QS. Al-Mu&#8217;minun, 23:1-2) </p>
<p>Bukan hanya di akhirat Allah menjanjikan kebahagiaan bagi hambanya yang mendirikan shalat dengan segenap jiwa dan raganya. Semenjak di dunia pun Allah telah memberi kabar gembira kepada umat Islam, sebagaimana firman Allah: </p>
<p>&#8220;Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi…&#8221; (QS. al-A&#8217;raf, 7:96) </p>
<p>Meskipun ketaqwaan tidak dapat hanya diukur dari sisi lahiriah berupa shalat saja, namun shalat jelas-jelas merupakan pintu masuk bagi setiap Muslim untuk memulai pengabdian kepada Allah dan Rasulullah. </p>
<p>Shalat merupakan sebesar-besarnya tanda iman dan seagung-agungnya syiar agama. <strong>Shalat merupakan tanda syukur </strong>para hamba atas nikmat yang telah dikaruniakan Allah. </p>
<p>Peristiwa Isra’ mi’raj merupakan bukti bahwa Shalat merupakan simpul terpenting dalam tatanan Islam, baik bagi setiap individu maupun masyarakat, dalam skala yang terkecil hingga level bangsa. Sebegitu pentingnya, maka layaklah Allah mewahyukannya langsung kepada Rasulullah tanpa melalui perantara. </p>
<p>Shalat mempunyai kedudukan yang tak dapat ditandingi oleh ibadah-ibadah yang lain. Ada banyak kutipan ayat-ayat al-Qur&#8217;an mengenai keutamaan Shalat. Beberapa di antaranya adalah : </p>
<p>&#8220;Dan perintahkanlah kepada keluargamu untuk mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.&#8221; (QS. Thaha, 20:132) </p>
<p>Shalat sangat bermanfaat bagi kehidupan umat Islam, baik secara individual maupun secara kemasyarakatan. Dalam hal ini Allah menjanjikan bahwa Shalat dapat menjauhkan manusia dari perbuatan-perbuatan yang tidak manusiawi. Firman Allah : </p>
<p>&#8220;Dan dirikanlah shalat, karena sesungguhnya Shalat dapat mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar&#8221; (QS. Al-Ankabut, 29:45) </p>
<p>Ayat ini merupakan peringatan dari Allah bahwa shalat merupakan elemen terpenting dalam pembentukan pribadi Muslim. Termasuk dalam pembentukan karakter bangsa. </p>
<p>Jika saja seluruh penduduk bangsa rajin melaksanakan <strong>Shalat</strong> dengan semestinya, tentu Allah akan mencurahkan karunianya kepada kita. Bukan besar kecil atau indah dan megahnya sebuah masjid yang menjadi parameter religiusitas sebuah masyarakat, melainkan banyak atau sedikitnya jamaah yang mendirikan shalat ketika waktu-waktu adzan dikumandangkan. </p>
<p>Sementara Shalat sebagai sebuah keharusan bagi setiap individu Muslim merupakan salah satu pertanda paling mudah dijadikan standar untuk mengukur sejauh mana seseorang memiliki ketaqwaan kepada Allah. Pribadi yang bertaqwa adalah pribadi yang senantiasa hatinya terikat dengan batas-batas waktu Shalat. </p>
<p>Meskipun memang Shalat tidak secara mutlak menunjukkan tingkat ketaqwaan seseorang. Setidaknya Shalat dapat memberikan sebuah perenungan intens dan continue kepada setiap pribadi Muslim dalam keseharian. Ketika seorang Muslim sedang berada dalam posisi yang mengakibatkan ia memiliki kecenderungan atau peluang lebih besar untuk berbuat dosa, maka ia akan dapat mengingat shalatnya. Buat apakah rajin-rajin Shalat jika masih berakhlak buruk misalnya. </p>
<p>Tentu saja dalam hal ini, shalat adalah sebuah sarana spiritual yang cukup penting untuk meredam kekejian atau kemungkaran yang akan dijalaninya. Shalat dapat berfungsi sebagai kontrol diri setiap saat bagi setiap perilaku individu muslim. </p>
<p>Maka demikian pun shalat dapat berfungsi sebagai kontrol sosiologi masyarakat. Jika sebuah komunitas masyarakat memiliki Masjid yang selalu penuh oleh Jamaah di setiap waktu-waktu shalat, tentu ini mencerminkan kondisi lingkungan yang religius. Biasanya secara otomastis, kegiatan-kegiatan massal yang berbau kemaksiatan akan berkurang. </p>
<p>Hal ini tentu sangat berbeda dengan lingkungan masyarakat yang Masjidnya-masjidnya hanya penuh ketika hari raya saja. Tentu kegiatan-kegiatan yang bersifat foya-foya lebih sering diselenggarakan dalam masyarakat. Dari sini shalat dapat kita jadikan sebuah pola dalam memperjuangkan peningkatan akhlak masyarakat. </p>
<p>Memakmurkan Masjid dengan shalat berjamaah merupakan program yang efektif untuk meredam gejolak negatif masyarakat. Jika kita mampu memakmurkan masjid dengan shalat berjamaah, kedamaian dan linkungan kondusif pasti terkondisikan dengan sendirinya. </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eddysetia.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eddysetia.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eddysetia.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eddysetia.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/eddysetia.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/eddysetia.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/eddysetia.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/eddysetia.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eddysetia.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eddysetia.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eddysetia.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eddysetia.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eddysetia.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eddysetia.wordpress.com/109/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eddysetia.wordpress.com&amp;blog=9150382&amp;post=109&amp;subd=eddysetia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eddysetia.wordpress.com/2010/01/14/shalat-dan-pembinaan-akhlak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c6c277c33ea83c9b85512b4bfd1116b2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">eddysetia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sifat Kasih Rasulullah saw</title>
		<link>http://eddysetia.wordpress.com/2009/12/24/sifat-kasih-rasulullah-saw/</link>
		<comments>http://eddysetia.wordpress.com/2009/12/24/sifat-kasih-rasulullah-saw/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Dec 2009 16:00:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eddy setiawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Riwayat]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eddysetia.wordpress.com/?p=107</guid>
		<description><![CDATA[Dalam suatu khutbahnya Rasulullah s.a.w. menyeru supaya manusia berbuat baik kepada sesama terutama terhadap anak-anak yatim, janda-janda dan juga kepada binatang. Pada suatu hari baginda berjalan pulang ke rumahnya, lalu dilihat seekor kucing sedang tidur dengan anak-anaknya di atas jubah yang hendak dipakainya. Sikap baginda yang mencintai binatang, beliau pun menggunting bagian jubah yang ditiduri [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eddysetia.wordpress.com&amp;blog=9150382&amp;post=107&amp;subd=eddysetia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam suatu khutbahnya Rasulullah s.a.w. menyeru supaya manusia berbuat baik kepada sesama terutama terhadap anak-anak yatim, janda-janda dan juga kepada binatang.  	</p>
<p>Pada suatu hari baginda berjalan pulang ke rumahnya, lalu dilihat seekor kucing sedang tidur dengan anak-anaknya di atas jubah yang hendak dipakainya. Sikap baginda yang mencintai binatang, beliau pun menggunting bagian jubah yang ditiduri kucing lalu beliau memakai jubah yang tersisa, sehingga kucing-kucing tersebut tidak terganggu.<br />
<span id="more-107"></span><br />
Dihari yang lain, baginda berjalan-jalan disuatu lorong di kota, tiba-tiba baginda melihat seekor unta sedang berlari dengan kencangnya. Orang-orang berhamburan lari untuk menghidari diri dari tabrakan unta itu. Tetapi anehnya bila unta itu sampai kepada Rasulullah unta itu menjadi jinak, lalu unta tersebut dipeluk oleh Rasulullah. Tidak lama kemudian pemilik unta itu datang dengan terengah-engah sambil mengucapkan terima kasih kepada Rasulullah.  	</p>
<p>Rasulullah mengetahui apa yang menyebabkan unta itu lari dari tuanya. Baginda berkata: &#8220;Kenapa engkau tidak memberikan makanan yang cukup untuk unta ini? Ia mengadu lapar kepadaku. Kalau engkau dapat menjaganya dengan baik ia tidak akan lari.&#8221; Orang itu sangat terkejut mendengar kata-kata Rasulullah, dia tidak menyangka bahwa unta itu telah mengadu kepada Rasulullah dan baginda memahami bahasa binatang itu. Lantas ia mengaku kesalahannya itu.<br />
Sejak itu ia sadar bahwa unta itu bukanlah semata-mata sebagai hambanya saja bahkan harus dijaga dengan baik dan sempurna.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eddysetia.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eddysetia.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eddysetia.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eddysetia.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/eddysetia.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/eddysetia.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/eddysetia.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/eddysetia.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eddysetia.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eddysetia.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eddysetia.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eddysetia.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eddysetia.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eddysetia.wordpress.com/107/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eddysetia.wordpress.com&amp;blog=9150382&amp;post=107&amp;subd=eddysetia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eddysetia.wordpress.com/2009/12/24/sifat-kasih-rasulullah-saw/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c6c277c33ea83c9b85512b4bfd1116b2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">eddysetia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hakikat Perjuangan Hidup Melalui Hikmah Hijrah</title>
		<link>http://eddysetia.wordpress.com/2009/12/18/hakikat-perjuangan-hidup-melalui-hikmah-hijrah/</link>
		<comments>http://eddysetia.wordpress.com/2009/12/18/hakikat-perjuangan-hidup-melalui-hikmah-hijrah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Dec 2009 18:29:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eddy setiawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Istiqomah]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eddysetia.wordpress.com/?p=104</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah kembali kita diberikan umur panjang sehingga bertemu kembali bulan Muharam tahun ini, sepatutnyalah kita bersyukur masih diberikan kesempatan hidup oleh Allah SWT di alam ini.. Apa sebenarnya arti “HIDUP” menurut pandangan agama &#8230;&#8230;? Hidup bukanlah sekedar menarik dan menghembuskan nafas. Ada orang-orang yang telah terkubur, tetapi oleh Al Qur’an masih dinamai “Orang hidup dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eddysetia.wordpress.com&amp;blog=9150382&amp;post=104&amp;subd=eddysetia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alhamdulillah kembali kita diberikan umur panjang sehingga bertemu kembali bulan Muharam tahun ini, sepatutnyalah kita bersyukur masih diberikan kesempatan hidup oleh Allah SWT di alam ini.. Apa sebenarnya arti<strong> “HIDUP” </strong>menurut pandangan agama &#8230;&#8230;? Hidup bukanlah sekedar menarik dan menghembuskan nafas. Ada orang-orang yang telah terkubur, tetapi oleh Al Qur’an masih dinamai<strong> “Orang hidup dan mendapat rejeki” </strong>sebagaimana Firman Allah Ta’ala :<em>“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rejeki.”</em>(QS.Ali Imran :169).</p>
<p>Dari sini dapatlah kita pahami bahwa : <strong>“hidup dalam pandangan agama”</strong> adalah : kesinambungan dunia dan akhirat dalam keadaan bahagia, kesinambungan kebahagiaan yang hingga melampui usia  dunia ini. Dengan demikian tiadalah arti hidup bagi seseorang, apabila ia tidak menyadari bahwa ia mempunyai kewajiban-kewajiban yang lebih besar dan yang melebihi kewajiban-kewajibannya hari ini. Setiap orang yang beriman wajib mempercayai dan menyadari bahwa disamping wujudnya masa kini, masih ada lagi wujud yang lebih kekal abadi dan lebih berarti daripada kehidupan dunia ini.<br />
<span id="more-104"></span><br />
Setiap pekerjaan yang dilakukan seseorang pasti mempunyai  <strong>“Motivasi atau dilandasi oleh niat”. </strong>Hal ini pernah ditegaskan oleh nabi Muhammad Saw., ketika seorang sahabatnya hijrah ke Madinah : <em>“Setiap pekerjaan harus atau pasti disertai niat. Maka, barang siapa hijrahnya didorong karena Allah, hijrahnya akan dinilai demikian. Dan barang siapa hijrahnya didorong oleh keinginan memdapat keuntungan duniawi atau karena ingin mengawini wanita, maka hijrahnya dinilai sesuai dengan tujuan tersebut”.</em><br />
Ketika nabi Muhammad SAW dan sahabat-sahabat beliau berhijrah, motivasi mereka yang utama adalah guna memperoleh ridho Allah SWT, yang mereka yakini Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.</p>
<p>Menjelang hijrah kaum Muslimin berada pada posisi yang sangat lemah dan teraniaya. Namun dengan tebalnya keimanan, dengan bekal keimanan keyakinan akan datangnya kemenangan tidaklah pernah sirna. itu pulalah yang mengantarkan mereka pada sikap optimis dan patriotisme. Oleh karenanya kita dapat mengambil pelajaran hidup dari hikmah Hijrah Nabi ini, yang antara lain adalah :</p>
<p><strong>1. SIKAP KESEDIAAN BERKORBAN</strong><br />
Ketika Rasululloh menyampaikan kepada Abu Bakar ra. bahwa Allah memerintahkannya untuk berhijrah, dan sekaligus mengajak sahabatnya itu untuk berhijrah bersama, Abu Bakar ra. menangis kegirangan. Dan seketika itu juga ia membeli dua ekor Unta dan menyerahkannya kepada Rasululloh saw. agar beliau memilih, mana yang beliau Nabi kehendaki. Di saat itulah terjadi dialog antara keduanya :</p>
<p>Rasulillah bersabda : <em>“Aku tidak akan mengendarai unta yang bukan milikku.”</em><br />
Sahabat Abu Bakar ra. menimpali;<em> “Unta ini aku serahkan untukmu.” </em><em>Baiklah aku akan membayar harganya.“ </em>Kata Nabi.</p>
<p>Setelah Abu Bakar bersikeras agar unta itu diterima sebagai hadiah, namun Nabi saw. tetap menolak, akhirnya Abu Bakar – pun setuju untuk menjualnya. Pertanyaannya kemudian adalah : <em>“Mengapa beliau Nabi Muhammad bersikeras untuk membelinya &#8230;&#8230;? “Bukankah Abu Bakar sahabat beliau ? </em>Disinilah terdapat suatu pelajaran yang sangat berharga yakni : Rasulullah saw. ingin mengajarkan bahwa untuk mencapai suatu usaha besar, dibutuhkan pengorbanan maksimal dari setiap orang. Beliau bermaksud untuk berhijrah dengan segala daya yang dimilikinya, tenaga, fikiran, dan materi, bahkan dengan jiwa dan raga beliau. Dan salah satunya adalah dengan tetap membayar harga onta sahabatnya, Abu Bakar.</p>
<p>Ketika Rasulullah SAW berangkat ke Madinah, beliau berpesan kepada kemenakannya “Ali Bin Abi Thalib”, agar ia tidur di tempat pembaringan Nabi sambil berselimut dengan selimut beliau guna mengelabui kaum Musyrikin. Dengan kesediaan ini. ‘Ali pada hakikatnya mempertaruhkan jiwa raganya demi membela agama Allah. Di sini, sekali lagi, kita harus memahami makna, tujuan dab hakekat dari tujuan hidup kita! Mentoknya ; <em>Inna Ilaa Robbika Al Ruj’aa : “Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah tempat kami kembali,” Telah siapkah kita &#8230;&#8230;.?</em></p>
<p><strong>2.	SIKAP TAWAKKAL DAN USAHA</strong><br />
Ketika Rasululloh saw. bersama sahabat Abu Bakar ra. bersembunyi di Gua Tsur dan para pengejar mereka telah berdiri di mulut gua tersebut, Abu bakar ra. sangat gentar dan gusar. Lalu rasululloh saw. menenangkannya sambil   berkata : Laa takhoofu Wa Laa Tahzanu, Innalloha Ma’anaa, “Janganlah kuatir dan janganlah bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” Keadaan ini bertolak belakang dengan apa yang kemudian terjadi dalam peperangan Badar, sekitar satu setengah tahun setelah peristiwa hijrah ini. Ketika itu yang gusar dan kuatir adalah Nabi Muhammad saw., sedang Abu Bakar ra. yang menenangkan beliau. </p>
<p>Mengapa terjadi dua sikap yang berbeda dari Nabi dan sahabatnya Abu   Bakar ?, Di sini, sekali lagi kita mendapat pelajaran yang sangat dalam. Dua peristiwa yang berbeda di atas menuntut pula dua sikap kejiwaan yang berbeda dan keduanya diperankan dengan sangat jitu oleh Nabi Muhammad saw. Kedua prinsip sebagai hakikat keagamaan itu adalah :<strong> “Tawakkal” dan “Usaha/Taqwa.”</strong></p>
<p>Modus perbedaan pengambilan keputusan sikap Nabi itu adalah : Bahwa perintah untuk berhijrah datangnya adalah seketika atau tiba-tiba, oleh karenanya ia harus dilaksanakan dengan penuh keyakinan, tiada alasan untuk takut, gentar dan bersedih. Berbeda halnya dengan peperangan. Jauh sebelumnya beliau telah diperintahkan untuk mempersiapkan diri menghadapi musuh. Sebagaimana terungkap dalam Firman Allah Ta’ala, :<em> “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambatkan untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, dan musuh kalian semua”. </em><br />
(QS. Al-Anfal ayat : 60)<br />
Kekhawatiran Nabi ketika itu timbul karena keraguan beliau akan persiapan-persiapan yang dilakukannya selama ini, jika keraguan itu benar, tentulah beliau menjerumuskan umat dan sekaligus agama ke jurang yang sangat berbahaya, dengan kekalahan akibat kurang persiapan. Dan beliau sadar bahwa, dalam hal ini, Tuhan tidak pilih kasih.</p>
<p>Sebagai satu kesimpulan, sekali lagi kita mendapat pelajaran tentang arti <strong>“TAWAKKAL”,</strong> kapan digunakan dan bagaimana batas-batasnya, serta arti dan pentingnya <strong>“USAHA” </strong>sebagai pemenuhan tuntutan ketaqwaan dalam kehidupan ini.</p>
<p>Dan tentunya masih banyak lagi pelajaran dan hikmah yang dapat dipetik dari <strong>peristiwa hijrah nabi Muhammad Saw</strong> sehingga wajar jika <strong>sahabat Umar Bin Khattab</strong> menjadikan peristiwa tersebut sebagai awal dari kalender Islam. Sayangnya kita dan kebanyakan umat banyak yang mengabaikan standart perhitungan  hari, bulan dan tahun Hijriyyah ini, ironis sekali memang. . . . ? Padahal seharusnya kita bangga dan berhutang budi untuk mempopulerkannya !</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eddysetia.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eddysetia.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eddysetia.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eddysetia.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/eddysetia.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/eddysetia.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/eddysetia.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/eddysetia.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eddysetia.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eddysetia.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eddysetia.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eddysetia.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eddysetia.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eddysetia.wordpress.com/104/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eddysetia.wordpress.com&amp;blog=9150382&amp;post=104&amp;subd=eddysetia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eddysetia.wordpress.com/2009/12/18/hakikat-perjuangan-hidup-melalui-hikmah-hijrah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c6c277c33ea83c9b85512b4bfd1116b2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">eddysetia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pentingnya Sabar</title>
		<link>http://eddysetia.wordpress.com/2009/12/16/pentingnya-sabar-2/</link>
		<comments>http://eddysetia.wordpress.com/2009/12/16/pentingnya-sabar-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Dec 2009 12:38:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eddy setiawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eddysetia.wordpress.com/?p=101</guid>
		<description><![CDATA[Menurut Imam Al-Ghazali sabar adalah meninggalkan seala macam pekerjaan yang digerakkan hawa nafsu, dan tetap pada menegakkan agama meskipun bertentangan dengan kehendak hawa nafsu, semuanya karena mengharapkan kebahagian hidup di dunia dan akhirat. Maka sabar merupakan sebuah perjuangan (jihad) untuk mengekang hawa nafsu dan kembali ke jalannya Allah. Dengan keadaan yang demikian, sabar menjadi sebuah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eddysetia.wordpress.com&amp;blog=9150382&amp;post=101&amp;subd=eddysetia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menurut Imam Al-Ghazali sabar adalah meninggalkan seala macam pekerjaan yang digerakkan hawa nafsu, dan tetap pada menegakkan agama meskipun bertentangan dengan <strong>kehendak hawa nafsu</strong>, semuanya karena mengharapkan kebahagian hidup di dunia dan akhirat.</p>
<p>Maka <strong>sabar</strong> merupakan sebuah perjuangan (jihad) untuk mengekang hawa nafsu dan kembali ke jalannya Allah. Dengan keadaan yang demikian, sabar menjadi sebuah sifat yang sangat berat. Firman Allah : <em>Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu&#8217;,’ (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.</em> (QS. Al-Baqarah : 45-46).<br />
<span id="more-101"></span><br />
Demikian beratnya <strong>melaksanakan sabar</strong> sehingga menjadi sifat istimewa yang hanya sanggup dikerjakan bagi orang-orang yang khusu’. Orang yang khusu’ itulah yang benar-benar mempunyai keyakinan yang kuat, niat yang ikhlas, itikad baik, tujuan yang benar dan dengan penuh kesabaran mereka mentaati peraturan agama baik perintah maupun larangan.</p>
<p><strong>Bersabar</strong> bukan hanya dilakukan ketika kita mengalami kesusahan dan bencana namun lebih dari itu kita mestilah sabar dalam ketaatan terhadap perintah agama. Misalnya dalam melaksanakan ibadah shalat, puasa, zakat dan haji sangat memerlukan kesabaran. Mengerjakan shalat 5 kali sehari adalah mendidik diri pribadi “sabar” yang menjadi kebiasaan sehari-hari dalam menjalankannya dengan menuntut keridhaannya. Sabar dan Shalat banyak mengandung hikmah antara lain : <strong>taat, patuh, setia, bertaqwa kepada Allah</strong>. </p>
<p>Karena Sabar merupakan masalah hati, dan terealisasi dalam tingkah laku, maka kadang sulit kita untuk mengendalikan hati kita sendiri. Solusinya kita senantiasa berdo’a dan bertawakal untuk diberikan sifat sabar dalam diri, selain itu hendaklah hati kita diisi dengan <strong>zikir kepada Allah.</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eddysetia.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eddysetia.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eddysetia.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eddysetia.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/eddysetia.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/eddysetia.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/eddysetia.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/eddysetia.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eddysetia.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eddysetia.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eddysetia.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eddysetia.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eddysetia.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eddysetia.wordpress.com/101/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eddysetia.wordpress.com&amp;blog=9150382&amp;post=101&amp;subd=eddysetia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eddysetia.wordpress.com/2009/12/16/pentingnya-sabar-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c6c277c33ea83c9b85512b4bfd1116b2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">eddysetia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cinta dan Keakraban Ilahi</title>
		<link>http://eddysetia.wordpress.com/2009/12/11/cinta-dan-keakraban-ilahi/</link>
		<comments>http://eddysetia.wordpress.com/2009/12/11/cinta-dan-keakraban-ilahi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Dec 2009 15:20:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eddy setiawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Tasawuf]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eddysetia.wordpress.com/2009/12/11/cinta-dan-keakraban-ilahi/</guid>
		<description><![CDATA[Keakraban adalah kebersamaan yang dicapai dengan cinta. Begitu banyaknya kesamaan diri kita dengan Allah sehingga kita akan merasakan begitu dekat dengan-Nya. Diri kita memang tidak bisa dipisahkan dengan-Nya karena kita semua berasal dari-Nya, Inna lillahi wa inna ilaihi raji&#8217;un. Seperti laut dan gelombangnya, lampu dan cahayanya, api dan panasnya; berbeda tetapi tidak dapat dipisahkan. Allah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eddysetia.wordpress.com&amp;blog=9150382&amp;post=97&amp;subd=eddysetia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Keakraban adalah kebersamaan yang dicapai dengan cinta. Begitu banyaknya kesamaan diri kita dengan Allah sehingga kita akan merasakan begitu dekat dengan-Nya. Diri kita memang tidak bisa dipisahkan dengan-Nya karena kita semua berasal dari-Nya, <em>Inna lillahi wa inna ilaihi raji&#8217;un.</em> </p>
<p>Seperti laut dan gelombangnya, lampu dan cahayanya, api dan panasnya; berbeda tetapi tidak dapat dipisahkan. Allah dan makhluk-Nya, berbeda tetapi tak bisa dipisahkan. Kita tidak bisa mengatakan bahwa laut sama dengan gelombang, lampu sama dengan cahaya, atau api sama dengan bara, demikian pula kita tidak bisa mengatakan bahwa makhluk sama dengan Khaliq.</p>
<p>Lautan cinta pada diri seseorang akan mengimbas pada seluruh ruang. Jika cinta sudah terpatri dalam seluruh jaringan badan kita maka vibrasinya akan menghapus semua kebencian. Sebagai manifestasinya dalam kehidupan, begitu bertemu dengan seseorang, ia tersenyum, sebagai ungkapan dan tanda rasa cinta.<br />
<span id="more-97"></span><br />
Nikmat sekali bermesraan dengan Allah SWT. Kadang tidak terasa air mata meleleh. Air mata kerinduan dan air mata tobat inilah yang kelak akan memadamkan api neraka. Air mata cinta akan memutihkan noda-noda hitam dan menjadikannya suci.</p>
<p>Cinta tidak bisa diterangkan, hanya bisa dirasakan. Terkadang terasa tidak cukup kosakata yang tersedia untuk menggambarkan bagaimana nikmatnya cinta. Kosakata yang tersedia didominasi oleh kebutuhan fisik sehingga untuk mencari kata yang bisa memfasilitasi keinginan rohani tidak cukup. </p>
<p>Terminologi dan kota kata yang tersedia lebih banyak berkonotasi cinta kepada fisik materi, tetapi terlalu sedikit kosa kata cinta secara spiritual. Mungkin itulah sebabnya mengapa Allah Swt memilih bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur&#8217;an karena kosa kata spiritualnya lebih kaya. Kosa kata cinta dalam Al-Qur&#8217;an menurut ulama tafsir ada 14 kosa kata, mulai dari cinta monyet sampai kepada cinta Ilahi.</p>
<p>Cinta Allah bersifat primer, sementara cinta hamba sekunder. Primer itu inti, substansi. Yang sekunder itu tidak substansial. Pemilik cinta sesungguhnya hanya Allah SWT. Hakikat cinta yang sesungguhnya adalah <em>unconditional love</em> (cinta tanpa syarat). Tanpa pamrih ini cinta primer. Ini berbeda dengan cinta kita yang memiliki kepentingan.</p>
<p>Ketika sebelum kawin, masya Allah, kita sampai kehabisan kata-kata melukiskan kebaikan pujaan kita. Akan tetapi sesudah kawin, kata-kata paling kasar pun tak jarang kita lontarkan.</p>
<p><em>Unconditional love</em> pernah ditunjukan Rasulullah Muhammad SAW ketika dilempari batu sampai tumitnya berdarah-darah oleh orang Thaif. Rasul hanya tersenyum. &#8220;Aduh umatku, seandainya engkau tahu visi misi yang kubawa, engkau pasti tidak akan melakukan ini&#8221;, demikian bisiknya,.</p>
<p>Bahkan ketika datang malaikat penjaga gunung Thaif menawarkan bantuan untuk membalas perbuatan orang Thaif itu, Nabi berucap, &#8220;Terima kasih. Allah lebih kuasa daripada makhluk. Jangan diapa-apakan. Mereka hanya tidak tahu. Kelak kalau mereka sadar, mereka akan mencintai saya&#8221;.</p>
<p>Nabi Nuh AS pernah menyesal sejadi-jadinya kenapa ia pernah mendoakan umatnya binasa. 950 tahun ia berdakwah mengajak kaumnya ke jalan Allah, namun hanya segelintir yang mengikuti ajakannya. Yang lainnya ingkar sehingga Nabi Nuh berdoa kepada Allah agar dikirimkan bencana kepada kaumnya yang ingkar itu. Maka datanglah banjir besar yang menenggelamkan mereka, sedangkan Nuh dan para pengikutnya sudah mempersiapkan diri dengan membuat perahu.</p>
<p>Ada sebuah ungkapan dari ahli hakekat: &#8220;Kalau cinta sudah meliputi, maka tak ada lagi ruang kebencian di dalam diri seseorang. Sejelek apapun dan kasarnya orang lain, ia tak akan membalas dengan kejelekan.&#8221;</p>
<p>Banyak ulama besar kita telah mencapai tingkatan itu. Imam Syafi&#8217;i pernah &#8220;dikerjai&#8221; oleh seorang tukang jahit saat memesan pembuatan baju. Lengan kanan baju itu lebih besar/longgar dibanding lengan kirinya yang kecil dan sempit. Imam Syafi&#8217;i bukannya komplain dan marah kepada tukang jahit itu, malah berterima kasih. </p>
<p>Kata Imam Syafi&#8217;i, &#8220;Kebetulan, saya suka menulis dan lengan yang lebih longgar ini memudahkan saya untuk menulis sebab lebih leluasa bergerak&#8221;. </p>
<p>Indah hidup ini kalau tidak ada benci. Ini bukan berarti kita harus menahan marah. Yang kita lakukan adalah bagaimana menjadikan diri ini penuh cinta sehingga potensi kemarahan kita berkurang. Kita punya hak untuk marah, dan itu harus diungkapkan dengan proporsional. </p>
<p>Jangan karena makanan sedikit kurang enak lalu marah. Istri salah sedikit marah. Banyak hal yang membuat kita marah. Akan tetapi, selesaikah persoalan dengan marah? </p>
<p>Semakin meningkat kadar cinta maka semakin mesra pula belaian Allah SWT. Bagaimanakah nikmatnya belaian Allah SWT? Bayangkanlah seorang bayi yang dibelai ibunya. Tersenyum, dan sekelilingnya menggoda. Itu baru belaian makhluk. Apalagi belaian Sang Pencipta.</p>
<p>Kita pun akan semakin akrab dengan Allah, dan semakin tipis garis pembatas alam gaib di hadapan kita sehingga semua rahasia akan terkuak dan semakin banyak keajaiban yang kita lihat. Seperti sepasang kekasih yang saling mencintai, masih adakah rahasia antara keduanya? </p>
<p>Ruh sifatnya tinggi dan cenderung dekat dengan Allah. Raga sifatnya rendah dan jauh dari Allah. Ruh itu terang, sedangkan raga gelap. Para sufi mengungkapkan, &#8220;Wahai raga, sibukkan dirimu dengan shalat dan puasa. Wahai kalbu, sibukkan dirimu dengan bisikan munajat kepada Allah. Wahai raga, ungkapkan <em>iyyâka na&#8217;budu. Wahai kalbu, ungkapkan iyyâka nasta&#8217;în.&#8221;</em></p>
<p>Ta&#8217;abbud mendaki ke atas, sedangkan isti&#8217;ânah turun ke bawah. Yang melakukan ta&#8217;abbud adalah hamba, sedangkan isti&#8217;ânah adalah Tuhan. Siapa yang naik akan memancing yang di atas untuk turun menyambut. Kalau tidak pernah naik, jangan harap akan ada yang turun.<br />
Indah perjumpaan itu. </p>
<p>Ada ketakutan dan ada harapan. Kadang kita takut kepada Allah, tetapi juga kita berharap. Ada al-khasya dan ada al-raja&#8217;. Di balik ketakutan sehabis berdosa ada harapan bahwa kita akan diampuni, ada keinginan bersama Allah kembali. Maka lahirlah tobat. Seperti pendaki gunung yang tak pernah bosan, naik ke atas, terperosok ke bawah, naik lagi, terperosok, dan naik lagi. Semakin tinggi pendakian itu semakin licin dan sulit. Begitulah cobaan bagi manusia. Semakin tinggi kedudukan seseorang maka cobaannya semakin berat. Namun, cobaan itu jangan membuat kita putus asa. Jika kita terus mendaki, pasti kita akan sampai ke puncak. </p>
<p>Ada ketakjuban dan ada keakraban. Ketakjuban itu ada jarak. Untuk mengagumi suatu objek, kita harus mengambil jarak dari objek itu. Indahnya sebuah lukisan hanya akan terasa jika kita agak jauh dari lukisan itu. Keakraban itu tidak ada jarak, atau sangat dekat sekali. Inilah kita dengan Tuhan. Akrab tetapi takjub. </p>
<p>Ada pemusatan dan ada penyebaran. Allah Maha Esa. Kita fokus ke situ. Akan tetapi, apa yang dilihat pancaindera itu beragam dan beraneka. Namun, semuanya terhubungkan dengan Allah. Warna-warni yang kita lihat di alam semesta ini sumbernya satu, Allah Yang Esa.<br />
Ada kehadiran dan ada ketiadaan. Ini lebih menukik. Satu sisi kita merasakan Allah hadir dalam diri kita, di sisi lain hampa. Kadang kita kosong, kadang penuh. Kadang Dia muncul, kadang tiada. Dia adalah Mahaada, meski tak terlihat. Dan yang terlihat ini sebetulnya adalah  manifestasi dari Yang Ada. Ketiadaan di sini bukan berarti menafikan. </p>
<p>Ada kemabukan dan ada kewarasan. Yang bisa memabukkan bukan hanya alkohol dan narkoba. Ada mabuk positif dan ada mabuk negatif. Mabuk bagi seorang sufi adalah supersadar (di atas kesadaran). Kesadaran seperti ini susah dijelaskan. Ketika kita sedang bermesraan dengan Allah, menangis di atas sajadah, terisak-isak, orang lain mungkin melihat kita sedang tidak sadar. Akan tetapi, sebenarnya kita sangat sadar, bahkan kita sedang berada di puncak bersama Allah. </p>
<p>Ketika mencintai seseorang saja kita bisa mabuk, begadang semalaman, membuat surat, dan lain-lain. Berkhayal, berimajinasi, membayangkan si dia hadir bersama kita. Bagaimana mabuknya kalau kita mencintai Allah?</p>
<p>Seorang sufi yang sedang mabuk kepada Allah, suka mengungkapkan ucapan-ucapan yang terdengar aneh di mata orang lain (syathahat). Misalnya &#8220;tak ada di dalam jubahku ini selain Allah&#8221;. Berarti dalam jubah itu ada dua sosok yang bergumul menjadi satu, hamba dan Tuhan. Atau ungkapan subhânî subhânî  (Maha Suci aku). Aku adalah Allah, Allah adalah aku.<br />
Aku ini siapa? Tak ada. Yang ada hanyalah Allah. Hanya Allahlah yang wujud. Selain itu hanya efek dari yang wujud. </p>
<p>Ada penafian dan ada penetapan. Kadang kita ragu, benarkah yang datang di dalam kalbu ini Allah? Jangan-jangan bukan, tetapi hanya imajinasi saja. Di sini terjadi pertentangan antara rasio dan rasa. Maka untuk meyakinkannya, kecilkan rasio dan besarkan rasa. Yakinilah bahwa kita telah mendaki, dan kita sudah sampai puncak. Maka yang kita jumpai pastilah Allah. Maka akan ada penampakan. Dan segala rahasia gaib pun tersibak.</p>
<p>Sumber : Republika.co.id</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eddysetia.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eddysetia.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eddysetia.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eddysetia.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/eddysetia.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/eddysetia.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/eddysetia.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/eddysetia.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eddysetia.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eddysetia.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eddysetia.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eddysetia.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eddysetia.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eddysetia.wordpress.com/97/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eddysetia.wordpress.com&amp;blog=9150382&amp;post=97&amp;subd=eddysetia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eddysetia.wordpress.com/2009/12/11/cinta-dan-keakraban-ilahi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c6c277c33ea83c9b85512b4bfd1116b2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">eddysetia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hadits Qudsi dan Perbedaanya dengan Al-Qur&#8217;an</title>
		<link>http://eddysetia.wordpress.com/2009/12/09/hadits-qudsi-dan-perbedaanya-dengan-al-quran/</link>
		<comments>http://eddysetia.wordpress.com/2009/12/09/hadits-qudsi-dan-perbedaanya-dengan-al-quran/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Dec 2009 16:51:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eddy setiawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eddysetia.wordpress.com/?p=94</guid>
		<description><![CDATA[Definisi Secara bahasa (Etimologis), kata Qudsi dinisbahkan kepada kata qudus (suci). Artinya, hadits yang dinisbahkan kepada Dzat yang Maha suci, yaitu Allah Ta&#8217;ala. Dan secara istilah (terminologis) definisinya adalah Sesuatu (hadits) yang dinukil kepada kita dari Nabi Shallallâhu &#8216;alaihi Wa Sallam yang disandarkan beliau kepada Rabb-nya. Perbedaan Antara Hadîts Qudsi Dan al-Qur`an Terdapat perbedaan yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eddysetia.wordpress.com&amp;blog=9150382&amp;post=94&amp;subd=eddysetia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Definisi</strong><br />
Secara bahasa (Etimologis), kata <strong>Qudsi</strong> dinisbahkan kepada kata <em>qudus</em> (suci). Artinya, hadits yang dinisbahkan kepada Dzat yang Maha suci, yaitu Allah Ta&#8217;ala.<br />
Dan secara istilah (terminologis) definisinya adalah<br />
Sesuatu (hadits) yang dinukil kepada kita dari Nabi Shallallâhu &#8216;alaihi Wa Sallam yang disandarkan beliau kepada Rabb-nya. </p>
<p><strong>Perbedaan Antara Hadîts Qudsi  Dan al-Qur`an</strong> </p>
<ul>
Terdapat perbedaan yang banyak sekali antara keduanya, diantaranya adalah: </p>
<li>Bahwa lafazh dan makna al-Qur`an berasal dari Allah Ta&#8217;ala sedangkan <strong>Hadîts Qudsi</strong> tidak demikian, alias maknanya berasal dari Allah Ta&#8217;ala namun lafazhnya berasal dari Nabi Shallallâhu &#8216;alaihi Wa Sallam. </li>
<li>Bahwa membaca al-Qur`an merupakan ibadah sedangkan Hadîts Qudsi tidak demikian. </li>
<li>Syarat validitas al-Qur&#8217;an adalah at-Tawâtur (bersifat mutawatir) sedangkan Hadîts Qudsi tidak demikian.<br />
Jumlah Hadîts-Hadîts Qudsi </li>
</ul>
<p><span id="more-94"></span><br />
Dibandingkan dengan jumlah hadits-hadits Nabi, maka <strong>Hadîts Qudsi</strong> bisa dibilang tidak banyak. Jumlahnya lebih sedikit dari 200 hadits. </p>
<p><strong>Contoh</strong><br />
Hadits yang diriwayatkan Imam Muslim di dalam kitab Shahîh-nya dari Abu Dzarr radliyallâhu &#8216;anhu dari Nabi Shallallâhu &#8216;alaihi Wa Sallam pada apa yang diriwayatkan beliau dari Allah Ta&#8217;ala bahwasanya Dia berfirman,<br />
<em>&#8220;Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan perbuatan zhalim atas diri-Ku dan menjadikannya diantara kamu diharamkan, maka janganlah kamu saling menzhalimi (satu sama lain).&#8221;</em> (HR.Muslim) </p>
<p><strong>Lafazh-Lafazh Periwayatannya</strong> </p>
<p>Bagi orang yang meriwayatkan <strong>Hadîts Qudsi</strong>, maka dia dapat menggunakan salah satu dari dua lafazh-lafazh periwayatannya: </p>
<ul>
<li>Rasulullah Shallallâhu &#8216;alaihi Wa Sallam pada apa yang diriwayatkannya dari Rabb-nya &#8216;Azza Wa Jalla </li>
<li>Allah Ta&#8217;ala berfirman, pada apa yang diriwayatkan Rasulullah Shallallâhu &#8216;alaihi Wa Sallam dari-Nya </li>
</ul>
<p>Tulisan Terkait :</p>
<ul>
<ol>
<a href="http://eddysetia.wordpress.com/2009/09/08/defenisi-hadits-dan-klasifikasinya/">Defenisi Hadits dan Klasifikasinya<br />
</a></ol>
</ul>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eddysetia.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eddysetia.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eddysetia.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eddysetia.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/eddysetia.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/eddysetia.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/eddysetia.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/eddysetia.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eddysetia.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eddysetia.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eddysetia.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eddysetia.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eddysetia.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eddysetia.wordpress.com/94/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eddysetia.wordpress.com&amp;blog=9150382&amp;post=94&amp;subd=eddysetia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eddysetia.wordpress.com/2009/12/09/hadits-qudsi-dan-perbedaanya-dengan-al-quran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c6c277c33ea83c9b85512b4bfd1116b2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">eddysetia</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
