Tujuan Pendidikan dan Nilai Keagamaan

OLEH SOFYAN SAURI

Tujuan ialah sasaran yang hendak ingin dicapai oleh suatu aktivitas manusia. Setiap aktivitas manusia mesti mempunyai tujuan tertentu. Sebab aktivitas yang tidak mempunyai tujuan adalah pekerjaan sia-sia. Tujuan berfungsi untuk mengarahkan, mengontrol dan memudahkan evaluasi suatu aktivitas. Karena itu tujuan suatu aktivitas haruslah dirumuskan dengan tegas dan jelas agar mudah mengarahkan, mengontrol dan mengevaluasi aktivitas tersebut. Allah swt menciptakan manusia dan jin tentu dengan rencana dan tujuan sebagai mana disebutkan dalam Al Quran surat Al Baqarah ayat 30 “Dan ingatlah ketika Allah berfirman kepada Malaikat, sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang kholifah di muka bumi”, dan dalam Q.S. 51;56 “Tidak semata-mata kami menciptakan jin da manusia kecuali harus beribadah”.

Tujuan pendidikan suatu negara hendaknya mengacu kepada tujuan yang ingin dicapai oleh suatu negara, seperti negara Indonesia memiliki tujuan pendidikan nasional yang dimunculkan pada Undang-undang sistem pendidikan nasional nomor 2 tahun 1989, yakni, Pendidikan Nasional bertujaun mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, keperibadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

Manusia dilahirkan ke alam dunia dalam keadaan lemah tidak berdaya dan tidak mempunyai kemampuan dan pengetahuan sedikitpun. Hal ini dijelaskan Allah dalam surat An Nahl ayat 16 “Dan Dia ciptakan tanda-tanda penunjuk jalan, dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk”. Untuk mejadi hamba Allah yang dapat mengabdi kepada-Nya (Q.S. 51:56), “tidak semata-mata kami menciptakan jin dan manusia kecuali harus beribadah. Dan menjadi kholifah dimuka bumi (Q.S. 2:30) “Dan ingatlah tatkala Tuhan berfirman kepada Malaikat sesungguhnya Aku akan menjadikan kholifah di muka bumi”. Itu semua hanya dapat ditempuh dengan pendidikan, karena pendidikan memberikan pembimbingan, pembinaan, dan dengan pendidikan diharapkan ada perubahan sikap yang sangat mendasar yakni mampu menempatkan dirinya sebagai makhluq Allah.
Manusia yang utuh yakni manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Manusia yang utuh adalah manusia yang kaffah yakni satunya niat, ucap, dan perbuatan dipersembahkan kepada Allah swt. Manusia yang utuh adalah manusia yang dapat mengembangkan tiga perbendaharaan hati, yakni qolbun salimun, qolbun maridun, dan qolbun mayyitun. Manusia yang utuh yakni manusia yang memahami dan melakukan semua kegiatannya berdasarkan syariat Islam.
Tujuan dasar keberadaan manusia di muka bumi, yakni penghambaan, ketundukan kepada Allah, dan kekholifahannya di muka bumi. Kesadaran akan kekholifahannya di muka bumi akan menjauhkan manusia dari sikap eksploitasi alam. Yang ada hanya sikap memakmurkan alam semesta melalui perwujudan ketaatan pada syariat Islam. Al Quran pun telah jelas-jelas tujuan penciptaan manusia, yakni (Adz Dzariat 56) “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. Jadi jelaslah bahwa tujuan pendidikan Islam adalah meralisasikan penghambaan kepada Allah dalam kehidupan manusia, baik secara individual maupun secara sosial.
Suatu tujuan yang hendak dicapai oleh pendidikan pada hakikatnya adalah suatu perwujudan dari nilai-nilai ideal yang terbentuk dalam pribadi manusia yang diinginkan.hal ini mengandung makna bahwa tujuan pendidikan Islam tidak lain adalah tujuan yang merealisasi identitas Islami. Sedang idealitas Islam itu sendiri pada hakikatnya adalah mengandung nilai perilaku manusia yang didasari atau dijiwai oleh iman dan taqwa kepada Allah sebagai sumber kekuasaan mutlak yang harus ditaati.
Bila manusia telah bersikap menghambakan diri sepenuhnya kepada Allah (Khaliknya) berarti telah berada di dalam dimensi kehidupan yang mensejahterakan di dunia dan membahagiakan di akhirat. Inilah tujuan pendidikan Islam yang optimal sesuai doa kita sehari-hari yang selalu kita panjatkan pada Allah setiap waktu. Adapun dimensi kehidupan yang mengandung nilai ideal Islami dapat kita kategorikan ke dalam 3 macam sebagai berikut :

  • Dimensi yang mengandung nilai yang meningkatkan kesejahteraan hidup manusia di dunia. Dimensi nilai kehidupan ini mendorong kegiatan manusia untuk mengelola dan memanfaatkan dunia ini agar menjadi bekal/sarana bagi kehidupan di akherat.
  • Dimensi yang mengandung nilai yang mendorong manusia berusaha keras untuk meraih kehidupan diakherat yang membahagiakan. Dimensi ini manusia untuk tidak terbelenggu oleh rantai kekayaan duniawi atau materi yang dimiliki, namun kemelaratan duniawi bisa menjadi ancaman yang menjerumuskan manusia kepada kekufuran.
  • Dimensi yang mengandung nilai yang dapat memadukan (mengintegrasikan) antara kepentingan hidup duniawi dan ukhrawi. Keseimbangan dan keserasian antara kedua kepentingan hidup ini menjadi daya tangkal terhadap pengaruh-pengaruh negatif dari berbagai gejolak kehidupan yang menggoda ketenangan hidup manusia, baik yang bersifat spiritual, sosial, kultural, ekonomis, maupun ideologis dalam hidup manusia.
  • Tujuan pendidikan untuk , pengembangan dan pembinaan kepribadian secara utuh. Kepribadiaan itu, berkenaan dengan kepribadian secara keseluruhan, yang tidak hanya bertalian dengan intelek saja tetapi juga emosi, kebiasaan dan sikap (Nasution, dalam Faridah 1992:19). Kepribadian yang berjati diri pribadi (Ahmad Sanusi, 1998 :1). Kepribadian utuh mengcover ranah-rannah:kognitif, efektif, konatif dan psikomotor. Kepribadian utuh adalah kepribadian kaffah. Sikun Pribadi (1977) menyebutnya kepribadian yang terorganisasi, tumbuh, terintegrasi, normal dan matang. Jika dikaitkan dengan pandangan Phexix (1954) kepribadian utuh digambarkan dengan hadirnya makna-makna (nilai-nilai) esensial yang mencakup makna: simbolik, estetik, etik, empirik, synnoetik dan synoptik. Perkembangan warga negara yang baik (good citizen). Good citizen berkaitan dengan kewajiban dan hak sebagai warga negara. Warga negara yang baik berarti tidak hanya sadar dan taat dalam menjalankan kewajiban-kewajibannya sebagai warga negara, tetapi juga mau dan mampu memperjuangkan hak-haknya sebagai warga negara. Ketaatan menjalankan kewajiban, kemampuan dan kemauan memperjuangkan hak-haknya sebagai warga negara ini, mempunya potensi dan memberi implikasi menjadikan penyelenggaran negara secara benar.

    Berbudi pekerti luhur, yakni berakhlakul karimah dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan pendidikan hendaknya dapat merubah manusia kepada keperibadian yang utuh yakni manuisa yang berakhlakul karimah, hal ini sebagaimana Nabi Muhammad diutus ke muka bumi ini adalah untuk menyempurnakan ahlak. Ahlak merupakan cerminan orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah swt.

    Satu Balasan ke Tujuan Pendidikan dan Nilai Keagamaan

    1. […] Bersikaplah positif terhadap kegagalan siswa dan bantulah mereka untuk bangkit dari kegagalan tersebut. Baca Juga : Mendidik Generasi Muda Islam Tujuan Pendidikan dan Nilai Keagamaan […]

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: