Ijma’ sebagai Sumber Hukum Islam

9 November 2012

Ijma’ berarti sepakat, setuju, atau sependapat. Sedangkan menurut istilah Ijma’
Mempunyai arti “Kesamaan pendapat para mujtahid umat Nabi Muhammad SAW, setelah beliau wafat, pada masa tertentu dan tentang masalah tertentu”.

Jadi dari pengertian dia atas dapat diketahui, bahwa kesepakatan orang-orang yang bukan mujtahid, sekalipun mereka alim atau sesepakatan orang-orang yang semasa dengan Nabi tidaklah dikatakan Ijma’.
Adapun kesepakatan ulama tersebut bisa ditetapkan dengan tiga cara, yaitu :

  1. Melalui ucapan (qauli), yakni kesepakatan berdasarkan pendapat yang dikeluarkan para mujtahid yang diakui sah dalam suatu hukum.
  2. Melalui perbuatan (fi’l), yakni kesepakatan para mujtahid yang diakui sah dalam mengamalkan sesuatu.
  3. Melalui diam (sukut), yakni apabila tidak ada diantara mujtahid yang membantah terhadap paendapat satu atau dua mujtahid lainnya dalam suatu masalah atau hukum.

Baca entri selengkapnya »

Iklan

Macam-Macam Hukum Islam

2 Agustus 2012

1. Takrif Hukum
Menurut istilah adalah Menetapkan sesuatu atas sesuatu atau memidahkan sesuatu daripadanya.
Sedangkan menurut istilah ahli usul fiqih, hukum adalah titah Allah atau sabda nabi mengenai segala pekerjaan mukallaf baik titah itu mengandung suruhan, tuntutan, atau syarat atau penghalang terhadap sesuatu hukum

2. Pembagian Hukum
Hukum merupakan kitab Tuhan atau nabi, baik langsung ataupun tidak yang dihadapkan kepada para mukkalaf untuk mengerjakan atau meniggalkan.
Dengan memahami atau menganalisa takrif hukum, ternyata hukum itu ada yang mengandung tuntutan, sebab, ayarat, dan mani’ (pencegahan berlakunya hukum), sah, batal, rukhsah, dan azimat seperti berikut :

    a. Hukum yang mengandung tuntutan (suruhan atau larangan) untuk dikerjakan atau di-tinggalkan dinamakan hukum taklifi
    b. Hukum yang mengandung takhyir (boleh dikerjakan atau tidak dikerjakan) dinamakan hukum takhyir.
    c. Hukum yang mengandung sebab, syarat, sah, batal, berat, ringan dinamakan hukum wadh’i, yaitu hukum yang ditetapkan oleh syara’ untuk menjadi sebab, syarat, penghalang atau menetapkan hasil dari yang dikerjakan itu sah tidaknya atau untuk menerangkan rukhsah azimahnya.

Baca entri selengkapnya »


Al-Qur’an Sebagai Petunjuk dan Pedoman Bagi Manusia

28 Agustus 2010

Allah SWT menurunkan pesan-pesan-Nya melalui al-qur’an kepada manusia, untuk dijadikan pegangan dan pedoman, WAY OF LIFE, agar manusia sukses dalam menjalani kehidupan di dunia dan bahagia di akhirat. Allah menurunkan al-qur’an melalui Rasul-Nya, menggunakan bahasanya, al-qur’an diturunkan dibelahan bumi pilihan Allah, yakni Mekkah Al Muqarramah dan sebagai umat islam yang juga terpanggil untuk menjalankan pesan-pesan Allah, maka sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk menjadikan al-qur’an sebagai petunjuk dan pedoman dalam hidup dan kehidupan, yakni memasyarakatkan isi, bacaan dan mengamalkan al-qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

“ Alif Laam Raa ….. ( ini adalah ) Kitab yang kami turunkan kepadamu (Muhammad) supaya kamu mengeluarkan manusia dari kegerlapan kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan, (Yaitu) menuju jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha terpuji ”. (QS;Ibrahim ayat; 1)

Dari ayat yang di atas, jelaslah bahwa fungsi al-qur’an adalah untuk membebaskan manusia    pada ayat ini Allah menyebutkan kegelapan dengan  menggunakan jamak Mu’annas salim dari isim mufrad  artinya kegelapan-kegelapan. Mengandung bahwa kegelapan di dunia ini banyak macam raga dan bentuk. Hal ini juga ditegaskan dalam beberapa tafsir, baik itu ( At-Tabari ), (Jalalain), ( Ibnu Katsir ), maupun (Al-Kurtubi ) disebutkan bahwa   itu tafsirnya , kekafiran, kesesatan dan kebodohan. Sementara      dalam ayat ini menggunakan isim mufrad, tidak menggunakan bentuk jamak. itu menunjukkan bahwa cahaya itu satu, yakni cahaya iman, petunjuk dan hidayah Allah SWT.
Baca entri selengkapnya »


Shalat dan Pembinaan Akhlak

14 Januari 2010

Shalat merupakan ibadah yang terdiri dari perkataan dan perbuatan tertentu sesuai syarat dan rukunnya yang dimulai dengan Takbiratul Ihram dan disudahi dengan Salam. Tata caranya adalah sesuai yang disampaikankan oleh para Sahabat yang melihat Rasulullah sedang melaksanakan shalat.

Sudah turun-temurun hingga kini, begitulah kita melihat orang-orang mendirikan shalat. Demikian pula kita mendirikan shalat sesuai ajaran yang kita yakini kesahihannya hingga saat ini. Hal ini telah sesuai dengan sabda Rasulullah SAW yang kami bacakan di awal tadi, yang artinya adalah ”Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku melaksanakan/mempraktikkannya.” (HR Bukhari-Muslim)

Menurut sejarahnya, perintah shalat diterima oleh Rasululah SAW ketika menunaikan Isra’ mi’raj. Bahwa Nabi Muhammad naik menuju Sidratul Muntaha dan bertemu secara langsung (yaqodhoh) dengan Allah SWT. Pada saat inilah Rasulullah mendapat perintah baginya beserta seluruh ummat yang mempercayai keterutusannya, berupa shalat 50 kali sehari yang kemudian dikurangkan hingga lima kali.

Baca entri selengkapnya »


Tujuan Pendidikan dan Nilai Keagamaan

17 November 2009

OLEH SOFYAN SAURI

Tujuan ialah sasaran yang hendak ingin dicapai oleh suatu aktivitas manusia. Setiap aktivitas manusia mesti mempunyai tujuan tertentu. Sebab aktivitas yang tidak mempunyai tujuan adalah pekerjaan sia-sia. Tujuan berfungsi untuk mengarahkan, mengontrol dan memudahkan evaluasi suatu aktivitas. Karena itu tujuan suatu aktivitas haruslah dirumuskan dengan tegas dan jelas agar mudah mengarahkan, mengontrol dan mengevaluasi aktivitas tersebut. Allah swt menciptakan manusia dan jin tentu dengan rencana dan tujuan sebagai mana disebutkan dalam Al Quran surat Al Baqarah ayat 30 “Dan ingatlah ketika Allah berfirman kepada Malaikat, sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang kholifah di muka bumi”, dan dalam Q.S. 51;56 “Tidak semata-mata kami menciptakan jin da manusia kecuali harus beribadah”.

Tujuan pendidikan suatu negara hendaknya mengacu kepada tujuan yang ingin dicapai oleh suatu negara, seperti negara Indonesia memiliki tujuan pendidikan nasional yang dimunculkan pada Undang-undang sistem pendidikan nasional nomor 2 tahun 1989, yakni, Pendidikan Nasional bertujaun mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, keperibadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Baca entri selengkapnya »


Mendidik Generasi Muda Islam

7 November 2009

Anak merupakan amanah dari Allah SWT yang harus mendapatkan perhatian dari orang tuanya secara serius, terutama dalam hal pendidikan mereka, agar kelak menjadi anak shaleh dan shalehah. Marilah kita tanamkan nilai-nilai agama dan budi pekerti yang luhur sedini mungkin agar mereka menjadi generasi yang berkualitas dan berakhlak mulia yang sanggup mengatasi tantangan kehidupan dizamannya, karena mereka akan hidup disuatu zaman yang berbeda dengan zaman kita.

Saat ini kita perlu merasa perihatin dengan munculnya beberapa kasus yang menimpa generasi muda ditanah air kita, di mana pada usia yang masih belia, bahkan masih dalam kategori anak-anak, telah terjadi perilaku-perilaku yang tidak lagi bisa dikatagorikan sebagai bentuk “kenakalan” pada umumnya, melainkan sudah menjerumus pada prilaku kriminal. Padahal kita tahu bahwa mereka adalah generasi yang akan meneruskan perjuangan kita; generasi yang akan menjadi bagian dari potret tanah air Indonesia di massa yang datang. Realitas ini harus kita sikapi secara serius, karena jika tidak, maka kiranya bukanlah suatu hal yang mustahil kasus-kasus seperti itu akan menjalar dan menjangkit mengenai lingkungan kita.

Marilah kita kembali kepada konsep ajaran agama Islam yang memandang anak sebagai amanah atau titipan Allah yang harus dijaga dan diperhatikan dengan sungguh-sungguh, khususnya dalam hal pendidikan dan juga mengenai hal yang lainnya. Memang di zaman sekarang tantangan yang dihadapi begitu besar dan berat, mendidik anak ibarat menggiring domba ditengah kawanan serigala, sedikit lengah , habislah domba itu di mangsanya.

Dalam usia-usia dimana mereka belum stabil dan belum pula memiliki ketahanan, mereka masih dalam proses mencari bentuk dan sangat mudah terpengaruh oleh teman-teman dan lingkungannya, mereka akan mencari alternatif yang mereka jumpai di sekitarnya yang seringkali mengesampingkan pertimbangan moral. Maka kita harus hati-hati dalam menawarkan figur-figur yang akan menjadi pilihan mereka.
Baca entri selengkapnya »


%d blogger menyukai ini: